Monday, March 2, 2015

Ayah ais

Sekelumit lagi kisah kilat .. fhuuh

Syahroni binti Sulaeman anaknya ibu Sri Ratnawati. Lahir di Jakarta, 11 November 1990. Adalah sekelumit kisah dalam hidup aku. Anak ini tadinya cuma lewat. Haha...kereta kali. Jadi waktu aku aktif di managerial band blueroll salah satu band asuhan aku. Band ini punya penggemar yg solid yg mereka dijuluki "Bluerollisme" so si roni ini adalah salah satu Bluerollisme. Pertemuan awal terjadi ketika blueroll menggelar acara show malam tahun baru 2012 di frontyard rumah aku di jl kartini. Nah si roni datang. Dari situ kita ngobrol. Dan obrolan berlanjut di bbm. Setelah itu ada beberapa kali dia berkunjung ke rumah untuk sekedar sharing dan cerita-cerita mengenai keluarganya. Ok... sampe disitu lah yg aku rasa menjadi titik lemah dari diri aku. Rasa empati yang kadang berlebihan dari diri ku ini seringkali membawa masalah kedepannya. Cerita kehidupannya itu lho kawan...aduhhhhh... tragis banget. Beneran deh aku gag lagi lebay. Bayangkan.. Dia itu adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Mereka berasal dari keluarga yg kurang mampu. Yang setiap anggota keluarga tercatat secara resmi menjadi peserta Jamkesmas. Ok.. sampe disitu bisa dibayangkan kan bagaimana taraf hidup mereka. Tidak sampai disitu saja. Sang Ayah baru kira-kira 3tahunan belakangan meninggal dunia. Ayahnya pak leman yg profesi nya sebagai sopir taksi bluebird itu meninggal karena penyakit komplikasi. Diantaranya diabetes jantung dan hypertensi. Yang menyedihkan gara-gara diabetes yang dideritanya. Pak leman mengalami luka akibat bisul dipunggungnya yang akhirnya membesar yang menjadikan dia mirip dengan tokoh fiksi horor sundel bolong. Masya Allah.. kebayang kan bagaimana sakit dan menderitanya. Setelah mengalami serangkaian operasi akhirnya pak leman meninggal juga. Tapi sebelum itu mendahului ke 3 anak laki2 nya; masing-masing namanya Rahmat Hidayat; Deni Irawan; dan Amir Hamzah. Ke tiga-tiga nya meninggal dunia ketika remaja. Sebabnya ada yang sakit dan ada pula 2 diantaranya yang katanya Over Dosis. Astagfirullah. Belum selesai lho ... ada juga cerita dari kakak perempuannya. Mba i'i begitu aku memanggilnya. Untuk yang satu ini dulu waktu dia remaja dia kabur dari rumah sama cowoknya yang saat ini sudah menjadi suaminya dan memberikannya 3 anak. Menurut cerita nya sendiri ke aku, dia putus asa melihat keadaan keluarganya saat itu. Dia lelah dan muak hidup menderita. Jadi dia meninggalkan keluarga nya di depok. Untuk menetap di Daan Mogot. Gag jauh si sebenernya. Tapi bener-bener kayak yang pergi ke Arab. Gag pernah pulang-pulang. Sampai orang tua nya meninggal pun. Tidak pulang sama sekali. Ajaib kan. Bukan main. 

Yahh...begitulah. masih ada cerita tentang sang ibu yang malang. Ibu Sri ini orangnya baik. Walaupun ada saat dimana aku merasa dia itu agak iri ke aku. Takut anaknya yang sekarang semata wayang itu tidak sayang lagi ke dia. Jadi ibu sri ini menderita sakit kanker payudara. Betul kawan... kanker payudara yang ganas itu. Ibu sudah menjalani operasi. Tetapi jaringan sel kanker ganas itu perlahan-perlahan menggerogoti tubuhnya. Tubuhnya yang memang cukup tinggi itu menjadi sangat amat kurus. Roni awal bercerita tentang keadaan ibu nya ini seperti menahan diri. Agar aku tidak bertanya lebih lanjut. Tapi dasar aku ini orang nya kepo aku yang meminta dia untuk mengantar aku untuk datang menjenguk ibu nya kerumah kontrakannya di beji. Akhirnya dia mengijinkan aku untuk menjenguk ibunya. Dan kawan...rontok rasanya hati aku. Sungguh ketika aku pertama kali melihat ibunya. Ya Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana. Mengapa Engkau memberikan ujian begitu dahsyat kepada keluarga ini Ya Allah. Begitu pertanyaan yang terlintas dalam kepalaku saat pertama kali aku melihat ibunya. Keadaannya benar-benar memperihatinkan. Kepalanya yang sudah tidak memiliki rambut lagi. Badannya yang sangat rapuh. Lemas terkulai tak berdaya diatas kasur yang sangat kotor dan tipis dan sudah sangat keras membatu. Sendirian terbaring lemah didalam rumah yang lebih menyerupai kandang ternak. Masya Allah. Menangis bathin ini melihat kenyataan susahnya orang gag punya dinegara ini. Di kota ini. Di kota depok yang kucintai ini. Di dekatku. Tidak jauh ..tetanggaku ada yang menderita seperti ini. Aku tidak bisa tinggal diam. Kalau bukan aku lantas siapa lagi yang mau peduli. Dan akhirnya setelah pertemuan pertama aku dengan ibu nya aku lebih seding lagi berkunjung kerumahnya. Ya sekedar menengoknya, menanyakan kabarnya, dan membawakannya makanan. Kadang aku juga bantu membersihkan rumah kontrakannya itu. Agar paling tidak bisa lebih enak dipandang mata. Lama kelamaan dengan kedekatan aku ke ibu nya. Entah bagaimana perasaan roni akhirnya ke aku. Tapi jujur Demi Allah aku tidak ada maksud terselubung atas apa yang aku lakukan ke ibunya. Aku betul-betul tulus ingin membantu sebisa aku. Aku berempati bagaimana hal nya aku yang berada diposisi ibu. Sakit, sendirian, dan tidak berdaya. Aku ingin paling tidak membangkitkan semangatnya untuk bertahan hidup. Untuk dirinya dan anaknya. 

Sampai di suatu ketika roni dan ibunya harus hengkang dari rumah kontrakan itu. Karena tunggakan yang sudah banyak. Akhirnya dengan senang hati aku menawarkan tempat untuk mereka. Aku dan roni berkeliling mencari rumah kontrakan. Aku memutuskan untuk mencari nya didekat rumah cipayung. Agar aku bisa dekat untuk control keadaan ibu. Dan juga aku bisa tetap menjalani kegiatan aku dan mengurus anak semata wayangku giffa. Ok akhirnya aku mendapatkan tempat yang cukup layak. Dan disana lah mereka tinggal. Sampai maut menjemput ibunya. Iya...hari itu adalah hari minggu. Aku dan keluarga besarku pergi ke daerah puncak. Untuk menghadiri resepsi pernikahan sepupu kembarku disebuah villa namanya Aries Biru. Malam harinya ketika aku sedang berjalan-jalan ke puncak pas, roni menelfon aku. Sebetulnya aku tidak ada firasat apa-apa. Di telp dia menanyakan kapan rencananya aku pulang ke depok. Setelah ngobrol sebentar roni bilang kalau ibunya mau bicara ke aku. Sebuah percakapan singkat.. yang aku gag sadari itu adalah percakapan diantara kami untuk yang terakhir kalinya. "Ya bu, ini vindy, ibu gimana kabar nya?" Ibu menjawab "vin ibu ngerasain sakit banget ni, dari kemarin malem ibu gag bisa tidur. Katanya roni pengen kesana ya ke puncak. Ga usah aja ya. Biarin dia nemenin ibu disini." Aku bilang " ohh iya bu. Biarin dia mah jgn kmn2. Jangan dikasih bu kalau mau kesini. Biar dirumah aja jagain ibu". Ibu bilang " iya. Udah ibu bilangin. Iya vin terimakasih ya. Terimakasih. Terimakasih banyak." Udah..gtu doang isi percakapan kami yang terakhir. Keesokan harinya aku pulang ke depok. Kebetulan gag langsung ke cipayung. Karena ada yang mesti aku kerjakan di rumah di jl kartini. Akhirnya pada malam harinya roni datang ke rumah di kartini dia bilang dia butuh kendaraan untuk bawa ibunya yang sudah sekarat ke rumah sakit. Belum sempat kami dapat mobil ibu sudah pergi. Iya dia pergi..dalan keadaan sendirian di kontrakan di cipayung . Benar2 sendirian disaat2 sakratul mautnya . Disaat anaknya keluar mencari bantuan. Dan ketika kami sampai ke kontrakan kami menyaksikan tubuh nya setengah meringkuk seperti menahan kesakitan yang luar biasa saat kepergian nya Dan aku sendiri melihat itu dengan mata kepala aku sendiri. Aku lemas terkulai dan shock..gag tau apa yang mesti dilakukan. Ibu sri sudah kaku dihadapanku sekarang. Akhirnya dengan meminta bantuan dengan orang-orang setempat akhirnya kami bisa menyelesaikan semua yang harus dilakukan dari memandikan ,menyolatkan dan mengkafankan. Hingga siap untuk dimakamkan.  
Dan akhirnya ibu dimakamkan diantara makam-makam suami dan ke3 anaknya. Ibu..sayang. Semoga arwah ibu diterima di sisiNya... amin.

Begitulah kisah awal hubungan aku dan roni akhirnya karena mungkin kami mengalami saat-saat berat bersama. Menimbulkan kedekatan tersendiri bagi kami. Akhirnya kami hidup sama-sama sampai kami di anugerahi seorang putri lucu bernama Aisha Calista Anindya Veron.

Tapi ternyata landasan hubungan kami tidak sekuat yang kami kira... Hubungan yang termasuk singkat itu pun berakhir kini. Sebabnya apa? Klo aku jelaskan sekarang akan menghabiskan waktu panjang lagi untuk menuliskannya. Sedangkan tanganku ini sudah mulai terasa pegal. Jadi baiknya nanti saja akan aku ulas lagi . Di postingan2 akan datang.